Berita  

Panja Impor Gula DPR RI Jadi Harapan Baru Petani Tebu Bondowoso

DPR RI
Foto: M. Nasim Khan politikus Indonesia yang menjabat sebagai anggota DPR-RI selama dua periode. Ia mewakili daerah pemilihan Jawa Timur III, yang meliputi Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo.

Bondowoso, KLIKTODAY.CO.ID – Pembentukan panitia kerja (panja) pengawasan impor gula oleh Komisi VI DPR RI disambut positif kalangan petani tebu dan pelaku industri gula di Bondowoso. Langkah tersebut dinilai menjadi angin segar bagi keberlangsungan usaha tani tebu sekaligus menjaga stabilitas penyerapan gula lokal di tengah ancaman membanjirnya gula impor dan gula rafinasi. Para petani berharap pengawasan impor dilakukan secara ketat agar kejadian lemahnya serapan gula seperti musim giling tahun lalu tidak kembali terulang. Kondisi itu sebelumnya sempat berdampak terhadap harga gula petani serta keterlambatan distribusi hasil produksi ke pasar nasional dan industri.

Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, menegaskan bahwa pengawasan impor gula menjadi langkah penting untuk melindungi produksi gula nasional sekaligus menjaga keseimbangan pasar dalam negeri. Menurutnya, regulasi impor harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan nasional agar keberadaan gula impor tidak memukul petani tebu lokal.

“Yang pasti kita berharap PG giling lancar, tolato (limbah hasil penggilingan tebu) bisa maksimal ditekan dengan sistem yang diberlakukan, hasil maksimal baik rendemen dan pembayaran petani juga maksimal,” ujar legislator PKB itu, pada Jumat (15/5/2026).

Ia menilai keberpihakan terhadap petani menjadi faktor utama menjaga ketahanan pangan berbasis komoditas gula nasional.

Selain pengawasan impor, Nasim juga mendorong adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dengan pabrik gula di Bondowoso. Menurutnya, koordinasi yang baik diperlukan agar produksi tebu petani tidak banyak keluar daerah seperti yang pernah terjadi pada musim sebelumnya. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen bersama menjaga pasokan bahan baku tetap masuk ke pabrik gula lokal demi mendukung target produksi daerah.

BACA JUGA :
PLT Lurah, Hadiri Peresmian Toko Basmalah Cabang Nangkaan Bondowoso, Berikut Harapanya

“Pihak kabupaten bisa sinergi dengan PG agar produksi dalam daerah tidak bocor keluar seperti masa pemerintahan lalu. Semoga ada kesepakatan bersama,” katanya.

Langkah tersebut diyakini mampu memperkuat ekonomi petani sekaligus meningkatkan produktivitas industri gula daerah.

Nasim menjelaskan, panja pengawasan impor gula dibentuk untuk memastikan kebijakan impor benar-benar berjalan sesuai kebutuhan nasional dan tidak merugikan industri gula rakyat. Menurut legislator PKB tersebut, pengawasan yang ketat akan memberikan kepastian pasar bagi petani dan pabrik gula sehingga produksi nasional tetap kompetitif.

“Pasti regulasi impor gula yang akan kita bahas sesuai kebutuhan dalam negeri dan industri yang perlu, sehingga bisa diawasi maksimal,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberadaan panja diharapkan mampu menjadi instrumen kontrol agar kebijakan pemerintah pusat tetap berpihak kepada petani tebu dan industri gula nasional di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.

Sementara itu, musim giling tebu 2026 di PG Pradjekan mulai berjalan sejak Mei hingga September mendatang. Kalangan petani maupun pihak pabrik optimistis target produksi gula tahun ini mampu tercapai karena kondisi pertumbuhan tebu dinilai cukup baik.

BACA JUGA :
Ops Patuh Semeru 2024, Polres Bondowoso Laksanakan Sosialisasi di Tempat Pembelanjaan

Ketua APTRI PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengatakan cuaca yang relatif stabil menjadi salah satu faktor utama keberhasilan musim tanam tahun ini. Selain itu, proses penanaman hingga perawatan tanaman berjalan lancar tanpa kendala berarti.

“Tidak ada keterlambatan dalam proses tanam maupun perawatan hingga pemberian pupuk oleh petani,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat petani optimistis hasil panen tahun ini lebih baik dibanding musim sebelumnya.

Petani bersama pihak pabrik menargetkan bahan baku musim giling mencapai 5,5 juta kuintal atau sekitar 550 ribu ton tebu. Dari jumlah tersebut, produksi gula ditargetkan minimal mencapai 40 ribu ton. Menurut Rolis, petani siap memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut dan berkomitmen memprioritaskan pengiriman tebu ke PG Pradjekan dibandingkan ke pabrik gula lain di luar daerah. Saat ini jumlah anggota APTRI Bondowoso mencapai sekitar 750 petani dengan total luasan lahan lebih dari 6.000 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Bondowoso. Besarnya potensi tersebut dinilai mampu menjadi kekuatan utama dalam mendukung peningkatan produksi gula nasional berbasis pertanian rakyat.

Selain persoalan produksi, petani juga berharap pemerintah segera menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) gula petani untuk menjaga stabilitas keuntungan usaha tani tebu. Tahun lalu HAP berada di angka Rp14.500 per kilogram dan tahun ini diharapkan naik menjadi di atas Rp15 ribu per kilogram seiring meningkatnya biaya produksi pertanian.

BACA JUGA :
Pemkab Bondowoso Gelar Halal Bihalal, Perkuat Ukhuwah dan Profesionalitas ASN

“Dengan kenaikan biaya produksi, petani berharap ada penyesuaian harga agar usaha tani tebu tetap memberikan keuntungan yang layak,” kata Rolis.

Harapan tersebut menjadi penting karena kenaikan harga pupuk, biaya tenaga kerja, dan operasional pertanian dinilai cukup membebani petani dalam beberapa musim terakhir sehingga diperlukan dukungan kebijakan harga yang berpihak kepada petani lokal.

Pelaksana Harian General Manager PG Pradjekan, Chandra Sakti Wijaya, mengatakan perawatan tanaman tebu yang baik menjadi faktor utama peningkatan rendemen gula tahun ini. Dalam Rencana Anggaran Kerja Perusahaan (RAKP), PG Pradjekan menargetkan rendemen sebesar 7,3 persen.

“Dengan capaian itu, produksi minimal 40 ribu ton gula optimistis dapat diraih,” ujarnya.

Ia mengakui pada musim sebelumnya sempat terjadi kendala penyerapan akibat kapasitas penampungan gula yang penuh serta melemahnya serapan pasar karena kebijakan impor gula nasional. Karena itu, pihaknya menyambut baik pembentukan panja pengawasan impor gula yang diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus meningkatkan serapan gula petani dalam negeri.

“Kalau harga gula bisa di angka Rp15 ribu per kilogram, perputaran ekonomi gula rakyat bisa mencapai Rp600 miliar,” pungkasnya.

banner 300x250