Bondowoso Jawa Timur, KLIKTODAY.CO.ID — Pemerintah Kabupaten Bondowoso, memperingati haul salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah daerah. Raden Bagus assra (RBA) Ki Ronggo, pada Kamis (4/12/2025).
Tahun ini menandai 171 tahun wafatnya tokoh yang dihormati sebagai pembabat Bondowoso, yang dikenal karena jasa besarnya dalam membangun tatanan pemerintahan.
Raden Bagus Assra, putra dari Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, tercatat dalam sejarah sebagai sosok sentral dalam pembentukan awal wilayah Bondowoso.
Dengan keberanian, ketegasan, dan kemampuan memimpin, ia digambarkan sebagai tokoh yang tidak hanya membuka kawasan baru, tetapi juga mengatur tata kehidupan sosial masyarakat pada masanya. Semangat itulah yang menjadikan namanya terus dikenang dan dihormati hingga kini.
Peringatan haul RBA Ki Ronggo setiap tahun selalu menjadi momentum refleksi bagi pemerintah maupun masyarakat Bondowoso.
Dalam peringatan Haul ini, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, menegaskan bahwa warisan Ki Ronggo bukan sekadar peninggalan fisik atau jejak sejarah, melainkan nilai-nilai luhur yang terus relevan dalam kehidupan modern.
“Warisan Ki Ronggo tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga nilai moral, spiritual, dan sosial yang hingga kini menjadi pedoman masyarakat,” ujar Wabup As’ad.
Wabup juga menekankan bahwa keteladanan Ki Ronggo dalam membuka dan menata wilayah harus menjadi motivasi bagi pembangunan Bondowoso ke depan.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso, lanjutnya, terus berupaya menguatkan visi Bondowoso Berkah, yaitu pembangunan yang berlandaskan keberkahan Allah SWT dalam setiap langkah dan kebijakan.
“Peringatan Haul ke-171 ini mari kita jadikan sebagai momentum memperkuat persatuan, merawat kearifan lokal, dan membangun kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat,” pungkas Wabup As’ad.
Peringatan haul tahun ini digelar dengan rangkaian doa bersama, pembacaan manaqib, serta kegiatan budaya yang melibatkan tokoh agama, budayawan, jajaran pemerintah, dan masyarakat setempat. Selain sebagai bentuk penghormatan, kegiatan ini juga menjadi upaya menjaga sejarah dan identitas daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (Sup)







